| Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling. Foto: Istimewa |
MANADO, dikanal.com - Kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) resmi memulai langkah strategis untuk bertransformasi menjadi pusat logistik global (Global Logistics Hub).
Langkah ini diawali melalui Focus Group Discussion (FGD) yang diinisiasi oleh Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) di Gedung Keuangan Negara, Manado, Senin (19/01/2026).
Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus Komaling (YSK), yang hadir langsung dalam forum tersebut menyatakan bahwa transformasi ini mendesak dilakukan untuk memperkuat daya saing ekonomi Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Saat ini, ekonomi Sulampua tumbuh positif di angka 5,5 hingga 6 persen dengan kontribusi ekspor mencapai 30 miliar dolar AS per tahun atau sekitar 18 persen dari total nasional.
Namun, Gubernur Yulius menyoroti tantangan besar pada jalur distribusi yang selama ini masih bergantung pada pelabuhan dan bandara di Pulau Jawa serta Bali. Pola distribusi yang tidak efisien ini menyebabkan waktu pengiriman ke pasar Asia Timur mencapai 25 hingga 30 hari.
"Agenda utama kita adalah mengefisiensikan sistem logistik. Dengan optimalisasi layanan direct call (pelayaran langsung) dari Sulawesi Utara, waktu tempuh dapat dipangkas signifikan dari 30 hari menjadi hanya 7 hingga 10 hari saja," ujar Yulius.
Efisiensi waktu tersebut diprediksi mampu menekan biaya logistik antara 20 hingga 30 persen. Penurunan biaya ini diharapkan berdampak langsung pada stabilitas harga barang di tingkat konsumen serta meningkatkan daya beli masyarakat di wilayah Timur Indonesia.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara kini terus mendorong optimalisasi Pelabuhan Bitung sebagai simpul logistik nasional dan Bandara Sam Ratulangi yang telah melayani kargo rutin dari Asia Timur. Ke depan, sektor pergudangan dan pusat distribusi regional juga diproyeksikan tumbuh pesat.
Meski demikian, Yulius menekankan bahwa keberhasilan visi ini memerlukan sinergi lintas sektor. Ia meminta instansi vertikal seperti Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, hingga aparat penegak hukum untuk memberikan pelayanan yang cepat dan pasti bagi investor.
"Pelaku usaha melalui APINDO dan Kadin juga harus berkomitmen dalam menjaga volume barang agar layanan pelayaran langsung ini dapat berjalan secara reguler dan berkelanjutan," tegasnya.
Melalui integrasi sistem logistik ini, kawasan Sulampua optimistis mampu bersaing dengan kawasan industri di Pulau Jawa maupun negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand dalam rantai pasok global. (Jovi)

